Tulisan ini bermula ketika kemarin saya 'terpaksa' harus ke warnet bersama seorang sahabat. Walau ogah-ogahan masuk dan memilih sebuah komputer, akhirnya kami memutuskan duduk di KBU yang paling dekat dengan pintu keluar. Bukan karena takut atau apa, tapi di ruangan yang berukuran kurang lebih 5m x 3m tersebut bisiiiiiiing minta ampun. Tembak-tembakan, sirine, dan suara-suara aneh lainnya muncul bersamaan (kayak lagi ada perang).
Sewaktu mengamati sekeliling kami, ternyata suara-suara tersebut berasal dari 'anak muda' yang sibuk mencet-mencet keyboard. Anak muda yang dimaksud bukan berarti remaja atau usia produktif. Mereka bisa dipastikan anak-anak yang baru duduk di bangku sekolah dasar. Ada perasaan yang sulit diungkapkan. Marah, kesal, prihatin bercampur jadi satu. Bukannya bersikap sok dewasa, namun sempat terlintas pikiran untuk bertanya 'mau jadi apa kamu nanti dek?'.
Setelah menarik nafas sejenak, lalu saya berusaha fokus dengan apa yang kami cari dengan tujuan bisa sesegera mungkin keluar dari ruangan yg dipenuhi tentara cilik jadi-jadian itu. Diperjalanan pulang, saya tak bisa melepaskan fikiran dari apa yang baru saya alami dan saksikan seraya menarik sebuah kesimpulan 'demam game online rupanya benar-benar menjangkiti generasi muda harapan bangsa'.
Fenomena game online perlahan menancapkan pengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam komunitas anak-anak dan remaja usia sekolah di sekitar tempat tinggal saya belasan orang menghabiskan waktu 'nongkrong' di Game Center atau warnet hanya untuk memuaskan nafsu bermain game online. Yang lebih parah lagi, banyak orangtua yang mengeluhkan anak-anak mereka yang tidak mau belajar atau mengerjakan tugas dirumah. Sekolah berantakan, hidup tak teratur, kesehatan tak terurus. Dan sepertinya candu ini masih akan terus berkembang pesat, seiring makin membanjirnya game online terbaru di dunia.
Sebenarnya tidak ada salahnya menjadi penggemar game online, karena ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa game bisa membuat orang pintar karena mengajarkan strategi, belajar bersosialisasi, memacu konsentrasi, belajar bahasa lebih cepat, dll. Namun jika hal tersebut membuang waktu dengan percuma tanpa dapat berkarya dan menjadi generasi yg berguna bagi nusa dan bangsa, apa gunanya dan apa jadinya bangsa ini kelak jika mental generasi mudanya seperti yang saya tuliskan diatas? Kecanduan game online secara perlahan akan membunuh kepribadian kita sebagai anak-anak bangsa yang dituntut berperan aktif membangun negri. Kita mulai lupa dengan tanggung jawab, tugas, kesehatan, dan masa depan kita. Lalu apa yang kelak mampu kita kontribusikan untuk negara? Suara tembakan dan sirine itu? Tentu tidak, karena rakyat mungkin menganggap ada perang dunia ketiga yang menimpa negeri ini.
Selain itu, saya mengingatkan agar berhati-hati kepada teman-teman dan adik-adik para game mania yang suka duduk berjam-jam di depan komputer. Terlalu banyak duduk dan kurang minum, bisa beresiko gagal ginjal. Bagi yang suka main game begadang tiap malam, kurang istirahat, itu sangat tidak baik bagi kesehatan jantung. Nah, setelah mengetahui dampak negatif dan positifnya, berharap teman-teman dan adik-adik bisa mengatur porsi main gamenya. Karena kita peduli Indonesia!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar